Taksonomi Invertebrata Laut: Sebuah Tantangan Peneliti Biologi di Indonesia

Pendahuluan

Taksonomi adalah salah satu cabang ilmu dari biologi yang mengelompokkan hewan dan tumbuhan. Ilmu taksonomi hewan dan tumbuhan dari tahun ke tahun berkembang dan berubah-ubah sesuai dengan kemajuan teknologi. Taksonomi pada hewan invertebrata laut mengalami kemajuan dengan adanya penemuan spesies baru di laut dalam dan survey di seluruh dunia. Kemajuan di bidang taksonomi menjadikan pemberian nama pada hewan dari tingkat subkelas sampai tingkat spesies invertebrata laut berubah dan mengalami revisi.

Invertebrata adalah kelompok (kingdom) hewan tingkat rendah yang tidak bertulang belakang. Filum dari kerajaan hewan invertebrata yang tersebar di bumi hidup di darat, air tawar, dan laut. Filum invertebrata yang ada dilaut tercatat lebih dari 20 filum dengan perkiraan terdapat 500,000 spesies yang terdiri dari porifera, cnidaria (coleanterata), annelida, arthropoda, molluska, bryozoa (Benton 2001) dan ekhinodermata. Bentuk invertebrata yang mikro sampai yang makro dengan pola habitat yang bentos, nekton, dan pelagis.

Indonesia yang teritorinya dikelilingi 78% perairan laut dangkal dari bagian timur sampai barat dengan tipe perairan yang dangkal dan hangat. Selain itu, faktor yang biogeografi yang terbentuk seperti di Indonesia timur dan Papua Nugini merupakan faktor daerah yang kaya kehidupan laut (Hutomo and Moosa 2005). Daya dukung dari faktor fisik menjadikan Indonesia salah satu negara yang memiliki keanekaragaman jenis yang tinggi didunia, baik dari tumbuhan tingkat rendah sampai tingkat tinggi, dari hewan bertulang belakang (vertebrata) dan hewan tidak bertulang belakang (invertebrata).

Keanekaragaman invertebrata laut di Indonesia diperkirakan memiliki jumlah kurang lebih terdapat 1,800 spesies (Hutomo and Moosa 2005), dan ini dapat bertambah seiring dengan kemajuan teknologi seperti genetika molekular untuk mengetahui spesies baru dan perubahan pengelompokkan hewan (taksonomi). Selain itu, studi yang dilakukan peneliti dalam mencatat dan mengidentifikasi biota laut yang ada tidak tercatat dan teridentifikasi dengan baik, bahkan para peneliti di Indonesia dapat menemukan spesies baru dari spesimen yang ada. Keanekaragaman biota laut di Indonesia sulit untuk dilaporkan sehingga sangat sedikit dan perlu perbaikan dalam sistem penamaan (taksonomi) (Hutomo and Moosa 2005).

Invertebrata Laut di Indonesia

Keanekaragaman spesies invertebrata laut di Indonesia yang terkenal di dunia adalah terumbu karang. Karang pembentuk terumbu merupakan filum Cnidaria (Coeleanterata) dengan kelas Anthozoa dan ordo Scleractinian. Terumbu karang yang ada di Indonesia memiliki jumlah 1,100 spesies (Hutomo and Moosa 2005) dengan perbedaan keanekaragaman jenis antara wilayah barat dan timur Indonesia. Jumlah terumbu karang di wilayah Indonesia timur lebih kaya keanekaragaman jenis dibandingkan dengan Indonesia barat (Hoeksema 2009), hal ini dikarenakan terumbu karang Indonesia barat mengalami penurunan yang lebih cepat dibandingkan dengan Indonesia timur (Bruno and Selig 2007). Salah satu contoh terumbu karang yang ada di Indonesia timur adalah di Raja Ampat, Papua, ditemukan sekitar 480 spesies karang. Dengan kata lain, lebih dari separuh spesies karang di dunia, dapat ditemukan di perairan Indonesia.

Terumbu karang berasosiasi dengan invertebrata lain seperti filum protozoa, molluska, ekhinodermata, porifera, dan arthropoda. Menurut Cox and Moore (2005), filum protozoa yang jumlah spesies didunia tergambarkan sekitar 40.000 spesies dari jumlah total yang diperkirakan 200.000 spesies, molluska 70.000 spesies dari 200.000, dan kelas krustacea dari filum artropoda 40.000 spesies dari 150.000 spesies.

Jumlah filum ekhinodermata yang ada di Indonesia dan telah diketahui spesiesnya memiliki 745 spesies, krustacea 1.512 spesies, sponges 830 spesies, bivalvia 1.000 spesies, dan gastropoda 1.500 spesies (Hutomo and Moosa 2005). Menurut Linse et al. (2006), kawasan Asia tenggara khsususnya Indonesia memiliki distribusi global kekayaan spesies pada gastropoda lebih dari 1.800 dan bivalvia lebih dari 1.200 spesies. Data yang spesiesnya telah diketahui diperkirakan dapat bertambah dan taksonomi dapat berubah.

Taksonomi Invertebrata Laut

Taksonomi atau sistematika adalah ilmu yang mempelajari jenis-jenis dan keanekaragaman dari organisme dan yang berhubungan dengan evolusi (Miller dan Harley 2001). Taksonomi atau penamaan untuk makhluk hidup dilakukan dengan 2 cara yaitu berdasarkan morfologi (tradisional) dan molekular (genetika). Sistematika invertebrata laut berdasarkan morfologi seperti Porifera dan Scleratinian telah dikembangkan (Neigel et al. 2007), akan tetapi merupakan masalah yang penyimpangannya ekstrim, membutuhkan ahli sistematika yang profesional (Mikkelsen and Cracraft 2001) dan tenaga ahli untuk bidang taksonomi sedikit (Giangrande 2003), untuk mengurangi penyimpangan tersebut, penggunaan metode baru telah digunakan seperti genetika molekuler.

Genetika molekular merupakan disiplin ilmu yang memberikan informasi dalam berbagai bidang seperti sistematika hewan (Johnson et al. 2009). G enetika molekular berkembang dengan pesat dari tahun ke tahun dalam bidang taksonomi dan telah berkembang sampai pada adaptasi, makroevolusi dan filogeografi. Penggunaan genetika molekuler di Indonesia telah banyak digunakan, akan tetapi pada sebatas hewan tingkat tinggi seperti pada hewan ternak dan ikan sedangkan pada invertebrata laut jarang digunakan. Penelitian invertebrata laut yang menggunakan genetika molekuler baru pada karang spesies Goniopora (Hardja 2009).

Produk perdagangan internasional telah berkembang ke sektor terumbu karang. Produk dari perdagangan berupa produk makanan dan non-produk makanan seperti perhiasan, cendramata, kesehatan (Hodgson 1999; Suharsono 1998), bahan bangunan, dan jalan (Giyanto 2007). Terumbu karang yang dimanfaatkan untuk perdagangan terdiri dari berbagai jenis yang hidup ataupun yang mati. Kawasan Asia Tenggara mengekspor 18 juta potong dan 2 juta kilogram karang yang hidup dan Indonesia mengekspor karang lebih dari 90% (Nijman 2010).

Metode genetika molekular membuka lapangan baru dari investigasi dan tenaga yang berhenti atau mandek pada beberapa kasus (Burton 1996). Contoh dari membuka lapangan baru adalah beberapa tenaga ahli sulit mengidentifikasi terumbu karang untuk produk penjualan., maka digunakanlah teknik molekuler. Selain itu, genetika molekuler membantu dalam upaya konservasi terumbu karang seperti, penamaan spesies-spesies secara genetika molekular (Neigel et al. 2007), secara morfologi (Giangrande 2003), dan penghubung dengan metode klasik (morfologi) (Kohler 2007).

Metode taksonomi yang berkembang dan pencatatan spesies yang dengan baik, merupakan kunci untuk menjadi penemu spesies baru di negeri yang kaya akan keanekaragaman spesies di dunia. Indonesia menjadi Negara ke-27 dalam menamai invertebrata laut sedangkan Singapura menjadi Negara ke 20 (Bouchet 2006). Hal ini menjadikan sebuah tantangan bagi peneliti bidang biologi untuk memberikan kontribusi terhadap taksonomi invertebrata laut di Indonesia.

Daftar Pustaka

Benton MJ. 2001. Biodiversity on land and in the sea. Geol. J. 36:211-230.

Bouchet P. 2006. The Magnitude of Marine Biodiversity. In: The Exploration of Marine Biodiversity: Scientific and Technological Challenges. Ed: CM. Duarte. Natural History Museum, Paris, France. 31-60 pp.

Bruno JF, ER Selig. 2007. Regional decline of coral cover in the Indo-pacific: Timing, extent, and subregional comparisons. Plos One. 2:1-8.

Burton RS. 1996. Molecular tools in marine ecology. Jou of Exper Mar Bio and Eco. 200:85-101.

Cox CB, PD Moore. 2005. Biogeography: An Ecological and Evolutionary Approach. 7th ed. Blackwell Publishing Ltd. pp x+417.

Giangrande A. 2003. Biodiversity, Conservation, and The ‘Taxonomic Impediment’. Aqua Conser: Mar Fresh Ecosys. 13:451-459.

Hardja JW. 2009. Kajian Karakterisasi Genetika Karang Goniopora spp. (Poritidae) Berdasarkan Penanda Genetik MtDNA COI dan Daerah ITS rDNA dalam Upaya Pengelolaan Terumbu Karang. [Tesis]. Sekolah Pascasarjana IPB. Bogor.

Hodgson G. 1999. A global assessment of human effects on coral  reefs. Mar Poll Bull. 38:345-355.

Hoeksema BW. 2009. West-East variation in the indonesian reef coral fauna: Lines of division or zones of transition?. Proceedings World Ocean Conference, Manado. pp:1-10.

Hutomo M, MK Moosa. 2005. Indonesian marine and coastal biodiversity: Present status. Indian J. of Mar Scie. 34:88-97.

Johnson JB, SM Peat, BJ Adams. 2009. Where’s the ecology in molecular ecology?. J. Compil  Oikos. 118:1601-1609.

Kohler F. 2007. From DNA taxonomy to barcoding-how a vague idea evolved into a biosystematic tool. Zool. Reihe. 83:44-51.

Linse K, HJ Griffiths, DKA Barnes, A Clarke. 2006. Biodiversity and biogeography of Antarctic and sub-Antarctic Mollusca. Deep-Sea Research II. 53:985–1008.

Mikkelsen PM, J Cracraft. 2001. Marine Biodiversity and the-Need for Systematic Inventories. Bull Mar Sci. 69:525-534.

Miller SA, JP Harley. 2001. Zoology. 5th ed. The McGraw−Hill Companies. pp xvii+540.

Neigel J, A Domingo, J Stake. 2007. DNA Barcoding as a Tool for Coral Reef Conservation. Coral Reefs. 26:487-499.

Nijman V. 2010. An overview of international wildlife trade from southeast Asia. Biodivers Conserv. 19:1101–1114.

Suharsono. 1998. Condition of coral reef resources in Indonesia. Pesisir dan Lautan. 1:44-52.

By generasi diatas batas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s